viralmedia.id

Indonesia Police Watch (IPW) melihat mutasi terbaru yang dilakukan polri dengan mengangkat kembali Irjen Nana Sudjana dinilai agak aneh, pasalnya Nana harus turun derajat dari Kapolda Metro Jaya menjadi Kapolda Sulut.

Dalam mutasi pertama Kapolri Listyo Sigit pada Kamis siang, IPW menilai ada lima hal.

Pertama, dalam mutasi ini terlihat bahwa Sigit makin mengukuhkan kekuatan Geng Solo di tubuh Polri.

“Irjen Nana yg pernah terdepak sebagai Kapolda metro jaya di era kapolri Idham Azis, kini kembali mendapat posisi Kapolda Sulut. Ini agak aneh, sebab posisi Nana turun “derajat”, dari Kapolda metro jaya menjadi Kapolda Sulut,” sebut Presidium IPW Neta S Pane melalui keteranga tertulisnya kepada INDOZONE, Jumat (19/2/2021).

Menurut Neta mutasi terbaru yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo menandakan orang-orang “dekat” Jokowi makin memperkuat posisinys di tubuh kepolisian.

Setelah menjadi Kapolri, saat ini orang dekat keluarga Jokowi dipercaya memegang posisi Kabareskrim. Yakni Komjen Agus Andiranto digeser dari kabaharkam ke kabareskrim.

Kedua, dalam mutasi ini, “orang orang BG” belum terlihat bergerak masuk ke dalam posisi strategis.

Ketiga, begitu juga orang orang Idham Azis dan Tito, dalam mutasi Kamis ini masih bertahan di posisi semula. Belum bergeser ke posisi strategis atau terdepak dari posisinya.

Keempat, Yang menarik dalam mutasi pertama kapolri Sigit ini, posisi Sestama Lemhanas masih dibiarkan kosong. Sepertinya Sigit masih mencari figur tepat yang akan digeser kesana.

Kelima, ketua tim pembuat naskah uji kepatutan Sigit di komisi III yakni Irjen Wahyu Widada masih belum mendapat tempat. Ia belum bergeser dari posisinya sebagai Kapolda Aceh.

“Belum jelas, kenapa Wahyu belum mendapat tempat, sementara cukup banyak figur figur yang ‘tak berkeringat’ dalam suksesi kapolri Sigit, dalam mutasi ini sudah mendapat tempat strategis,” sebutnya.

Keenam, mutasi pertama kapolri Sigit ini berhasil mereposisi Kabaintelkam, yang semula dipegang mantan ajudan presiden SBY, Komjen Rycko diserahkan kepada Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpau.

“Terjadinya kerumunan massa dalam kepulangan Habib Riziq maupun kasus penembakan laskar FPI di Tol Cikampek tak terlepas dari kelemahan deteksi dini dan antisipasi Baintelkam, sehingga reposisi di Baintelkam polri menjadi sebuah kewajaran,” beber Neta.

IPW menilai, kapolri Sigit sangat sulit untuk melakukan mutasi maksimal dalam mencapai konsep Presisi yang dicanangkannya saat uji kepatutan di DPR.

Sebab gerbong mutasi yang bisa dilakukan Sigit hanya sebatas pada bintang dua ke bawah. Sedangkan mutasi di posisi bintang tiga hanya ada dua tempat yang kosong, yakni Kabareskrim dan Sestama Lemhanas.

Posisi lainnya masih dijabat oleh jenderal bintang tiga yg masa dinasnya masih lama, yakni dua tahun lagi. Sehingga perputaran mutasi ke posisi bintang tiga sangat terbatas dan stagnan.

“Kondisi ini tentunya membuat kapolri Sigit kesulitan dalam menggerakkan gerbong mutasi dengan maksimal dan dampaknya organisasi Polri akan stagnan hingga dua tahun ke depan, apalagi Sigit sendiri baru pensiun di thn 2027. Bagaimana pun ini menjadi dilema dalam dinamika polri ke depan,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here